| Rating: | ★★★★ |
| Category: | Books |
| Genre: | Literature & Fiction |
| Author: | Karl F.May |
His character being identical to that of Old Shatterhand, he owns two famous rifles, the Bärentöter (Bear Killer) and the Henrystutzen (Henry-Rifle). Without ever leaving the saddle of his fabulous black horse Rih, Kara Ben Nemsi left-handedly fights off droves of thieves and crooks left and right. On night-long rides through bleak and barren lands, he never wavered in sharing his long-winded religious musings with unenlightened natives and readers alike.
Demikianlah penggalan review tentang buku ini yang bisa ditemukan di wikipedia. Terlalu singkat untuk menjelaskan betapa buku ini luar biasa sekali berkesan untukku. Meski ada beberapa hal tindak tanduk Kara yang aku tidak sependapat, terutama berkaitan dengan "ego" Karl May sang penulis, yang kadang berlebihan dan terkesan tanpa cela, tapi hal ini bisa dimaklumi soalnya dunia cerita yang bergenre fiksi ini dikarang oleh penulis yang banyak memiliki keterbatasan sehingga lewat tulisannyalah dia mengaktualisasikan dirinya.
Ide Karl May mengenai kemanusian sangat sefaham denganku, bahwa perbedaan apapun bahkan yang sesakral agama tidaklah mesti membuat orang membenci orang lain yang berbeda, hanya karena berdasarkan perbedaan itu. Bahwa kita hidup di dunia penuh prasangkalah yang membuat perdamaian di muka bumi ini selalu ternoda oleh kecurangan, tipu muslihat, peperangan dan berbagai tindakan pelanggaran sisi kemanusiaan lainnya. Bahwa tujuan Karl May dengan tulisannya adalah dunia dengan perikemanusiaan yang dijunjung tinggi. Dunia dimana manusia bisa berdampingan hidup dengan manusia dengan damai dan saling menghormati. Memperlakukan orang sebagaimana dia ingin orang lain memperlakukannya
Hal yang sungguh luar biasa, mengingat tokoh penulis kita ini serba terbatas ( buta sampai umur 4 tahun, menderita kepribadian ganda dan pernah dipenjara). Bahkan berbagai tulisan Karl May yang termahsyur seperti Kara Ben Nemsi ini dan Winnetou, dibuat tanpa sebelumnya pernah menginjakkan kaki di belahan bumi yang menjadi latar ceritera yang disusunnya.
Buku ini dalam edisi Indonesia terbarunya terbagi dalam 4 jilid dengan sedikit penyusunan ulang dari edisi berbahasa inggrisnya.
Seperti telah dikatakan di atas bahwa latar buku ini adalah di daerah-daerah perifer kekuasaaan Dinasti Ottoman (Kekhalifahan Utsmaniyah) yang menjelang keruntuhannya. Dari buku ini yang bahannya sebagian besar di kutip karl May dari sumber-sumber yang terpercaya di zamannya, membuat kita bisa mengambil kesimpulan betapa bobroknya pemerintahan kekhalifahan tersebut dijalankan di daerah pinggiran. Pejabatnya korup dan memanipulasi rakyat sehingga kepercayaan rakyat terhadap Sultan semakin hari semakin berkurang, hal yang tak mengherankan pada akhirnya kekhalifahan harus runtuh, hal yang akan ditangisi hingga hari ini oleh sebagian kaum muslimin.
Jilid pertama berkisah petualangan Karl May dan hajji Omar Halef di Afrika Utara. Jilid kedua di Jazirah Arabia dan sebagian di daerah sungai tigris dan eufrat (Irak sekarang). Dan jilid ketiga berlatar belakang petualangan di Daerah kurdistan yang merupakan daerah konflik paling rumit.Tidak hanya perbedaan etnik, agama bahkan sektepun saling membenci disini. Hal yang diselesaikan dengan bijak oleh Kara ben Nemsi sebagai diplomat ulung, dan menghindarkan mereka dari pertumpahan daerah yang tidak perlu.
Sedangkan pada jilid terakhir menceritakan perjalanan terakhir yang ditempuh oleh Kara dan sahabat-sahabatnya kembalike tanah Suku haddedihn Shammar. Bagi anda pecinta Karl May pasti tidak akan melewatkan buku yang satu ini.
Blogger Comment
Facebook Comment